Beragam Pendapat tentang Balap Liar di Suara Surabaya, soal Aksi Sampai Cara Mengatasi

Beragam Pendapat tentang Balap Liar di Suara Surabaya, soal Aksi Sampai Cara Mengatasi

Polresta Sidoarjo berhasil mengamankan sekitar 203 sepeda motor yang terjaring dalam razia balap liar, Sabtu (18/11/2021) dini hari.

Dari razia yang berlokasi di daerah Gilang, Kecamatan Taman ini, ada 297 remaja berusia antara 15-23 tahun, pembalap maupun penonton yang diamankan.

Selain itu Suara Surabaya juga kerap mendapat laporan dari pendengar tentang balapan liar yang sering digelar di lingkar Masjid Al-Akbar Surabaya.

Berkali-kali laporan yang didapat diteruskan kepada pihak kepolisian, dan sebanyak itu pula aksi ini berhasil digagalkan namun balapan liar terus ada.

Banyak pengakses Suara Surabaya yang mengeluhkan aksi ini karena dianggap berbahaya dan meresahkan.

Pembalap rata-rata tidak memakai pengaman tubuh dengan lengkap seperti helm. Bahkan sepeda motor mereka juga tidak memenuhi standar keamanan sehingga tingkat bahaya ikut meningkat.

Terlebih, aksi mereka ini kerap dilakukan di jalan raya dan bukan di sirkuit yang sejatinya sudah disiapkan oleh pemerintah.

Baca juga: Pemkot Surabaya: Jangan Balapan di Jalan Raya, Silakan Pakai Sirkuit GBT secara Gratis

Berikut pendapat pengakses Suara Surabaya tentang aksi balap liar yang berhasil dirangkum suarasurabaya.net, Minggu (19/12/2021).

Agus Bramantyo menilai sebaiknya para pembalap ini difasilitasi dengan jalan diberi lahan resmi agar mereka bisa balapan.

“Sederhana saja, gak usah belok-belok. Itu yang balapan (liar) bisa manfaatkan itu.”

Senada dengan Agus, Choirul juga berharap agar para pemuda ini bisa difasilitasi. Salah satu caranya dengan menggandeng bengkel tempat para pembalap ini memodifikasi motornya.

“Ikonnya itu di bengkel. Mereka balapan jor-joran di bengkel. Gandeng bengkel-bengkel itu, adakan yang resmi balapannya. Sirkuit di Gempol lama itu kan bisa dipakai. Bisa juga kolaborasi sama polisi.”

Pendapat lain diceritakan Bayu. Selain berprofesi sebagai pelaku otomotif, dia memiliki putri berusia 14 tahun yang juga berprofesi sebagai pembalap.

Awalnya, putrinya yang bernama Adila Putri Hawa ngotot meminta balapan motor saat kelas 6 SD. Saat dilarang, Adila justru menangis.

Dia pun tidak bisa melarangnya karena itu adalah kesukaannya yang harusnya dia dukung.

“Saya ikutkan ke latihan-latihan. Dan memang butuh nyali besar. Kalau balapan liar itu nyali mereka memang besar tapi cara menyalurkannya salah. Mereka melanggar aturan dan hukum,” katanya.

Selain itu dia juga menyayangkan para pembalap liar yang sering jadi kambing hitam. Seharusnya, mereka bisa difasilitasi dan diarahkan pemerintah.

Baca juga: Polresta Sidoarjo Amankan Ratusan Sepeda Motor Balap Liar

“Penggunaan sirkuit itu susah karena milik Pemda, dan untuk memakainya butuh sedikit birokrasi. Akhirnya, pemakaian sirkuit jadi sulit dan tidak menarik karena susah izinnya. Jangan sampai membuat anak curi-curi main di jalan. Peran serta induk olahraganya juga harus ikut menaungi,” komentarnya.

Dia menambahkan, untuk yang tertarik dan ingin menekuni profesi balap, ada Ikatan Motor Indonesia yang punya banyak program. Program ini yang kemudian dirasakan oleh Bayu bisa menjadi sarana pembinaan untuk generasi muda yang suka balap.

Wahid, pendengar yang juga mantan pembalap liar di tahun 90an berusaha meluruskan stigma di masyarakat tentang para pembalap ini.

“Jangan salah, balap itu butuh modal dan bakat. Ikut tim dan ke bengkel juga butuh modal besar. Jadi pembalap itu gak gampang,” ujarnya.

Di tahun 1985an, kata Hendra Pras di kawasan SCTV dulunya adalah tempat balap liar. Namun oleh Polwiltabes kala itu difasilitasi setiap akhir tahun.

Tapi dia tidak tahu apakah aparat kepolisian memfasilitasinya sampai sekarang.

Warganet pun ikut membagian komentarnya melalui Facebook e100.

Akun Djudjuk P Surjanto mengatakan seharusnya setelah ditangkap, pembalap liar di Sidoarjo dibina dan difasilitasi polisi seperti diberi training skill dalam mengemudi.

Ini supaya nantinya mereka tidak sembarangan menggunakan jalan umum sebagai ajang balap liar.

Berbeda dengan Djudjuk, Chairul Fuad menilai masalah utama di balapan liar bukanlah adu bakat melainkan taruhan yang tidak sedikit jumlahnya.

“Kalau mereka balapan di sirkuit mungkin kebiasaan taruhan uang dalam jumlah besar akan sulit mereka lakukan. Jadi masalah yang harus dihadapi bukan balapan liarnya tapi mental judinya,” tulisnya.(dfn/den)

Berita Terbaru Terkait “Beragam Pendapat tentang Balap Liar di Suara Surabaya, soal Aksi Sampai Cara Mengatasi” Sudah Tayang Sebelumnya di Suara Surabaya Repost By © infosurabaya 2021