BMKG Ramalkan Terjadinya Gempa dan Tsunami di Jatim, Pakar ITS Ini Malah Ingatkan Semboyan 20-20-20

  • Bagikan
BMKG Ramalkan Terjadinya Gempa dan Tsunami di Jatim, Pakar ITS Ini Malah Ingatkan Semboyan 20-20-20
BMKG Ramalkan Terjadinya Gempa dan Tsunami di Jatim, Pakar ITS Ini Malah Ingatkan Semboyan 20-20-20
Peta zonasi ancaman bencana tsunami di Indonesia -Foto Dok BNPB

infoSURABAYA.com – Akhir bulan lalu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengumumkan hasil pemodelan matematis yang dilakukannya guna memprediksi gempa dan tsunami terkuat dan terbesar yang mungkin menerpa Jawa Timur.

Hasilnya, gempa yang berpotensi mengguncang kawasan ini adalah sekuat Magnitudo (M) 8,7 dan sangat mungkin diikuti tsunami setinggi 29 meter maksimal.

Dr Ir Amien Widodo MSi, pakar geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) turut buka suara menanggapi prediksi tersebut. Menurutnya, pemodelan yang dilakukan BMKG merupakan langkah awal yang tepat.

Amien mengingatkan bahwa daerah Jatim terbentuk karena adanya tumbukan lempeng Eurasia dan Indo-Australia, sehingga menjadi keharusan untuk meneliti bab kegempaan di Jatim.

Dosen Departemen Teknik Geofisika itu menyatakan, BMKG bukan tanpa alasan menyebutkan skenario terburuk yang mungkin menimpa.

“Pemodelan ini menunjukkan worst scenario kemudian diumumkan. Karena dalam lima bulan terakhir diketahui frekuensi gempa yang terjadi di Jatim sangat tinggi,” ungkapnya.

Tingginya intensitas gempa ini patut dicurigai, belajar dari gempa besar di Yogyakarta pada 27 Mei 2006 silam.

Salah satu yang menjadi pertanda sebelum gempa Yogya terjadi adalah terekam aktivitas kegempaan yang semakin sering. Ketika itu, frekuensi gempa mengalami kenaikan, tetapi tidak lebih dari 50 gempa setiap bulannya.

“Sementara itu, di lima bulan terakhir ini gempa yang terekam selalu lebih dari 500 kejadian per bulan,” ungkap Amien.

Sangat jauh perbedaan frekuensi tahun 2006 lalu dengan tahun ini. Karena itu, sudah sepantasnya kita jauh lebih waspada. Terlebih lagi, tambah Amien, tumbukan lempeng yang menyusun Jatim ini jaraknya sekitar 250 sampai 300 kilometer ke garis pantai.

Ini menunjukkan gempa sangat mungkin terjadi di berbagai titik, di wilayah yang ada di sekitar zona subduksi, yakni zona tempat terjadinya tumbukan itu.

Pengamatan aktivitas gempa juga dilandaskan pada data seismik yang terukur, selain mengacu pada sejarah kegempaan. Meski menurut penelitian aktivitas seismik yang terekam selama ini tidak merata, tetapi menurut Amien, justru hal itu yang perlu dijadikan perhatian.

“Jika sewajarnya intensitas gempa di setiap titik zona subduksi adalah sama, tetapi ditemukan zona dengan gap seismic. Artinya ada kemungkinan lempengan terkunci dan akan lepas sewaktu-waktu,” paparnya.

Di Indonesia, zona dengan gap seismic ditandai di sembilan wilayah dari Sabang sampai Merauke. Salah satunya ada di Jatim dekat dengan Pulau Bali. Jika daerah yang diperkirakan sedang mengalami kuncian antarlempengnya pada akhirnya lepas dan menyebabkan gempa yang besar, dihitung akan ada waktu 20 sampai 25 menit untuk air mencapai daratan mempertimbangkan jarak zona subduksi dari garis pantai.

“Belum lagi, jika gempa yang terjadi berkekuatan M 8,7, akan mendorong sesar-sesar di Jatim sehingga tereaktivasi,” imbuhnya.

Sesar yang tereaktivasi dapat menyebabkan gempa-gempa lain yang akibat dislokasi. Sedangkan, sesar-sesar itu melewati wilayah padat penduduk, seperti Banyuwangi, Probolinggo, Pasuruan, dan Surabaya.

Meskipun berkekuatan kecil, jika terjadi di daerah perkotaan maka akan sama bahayanya. Amien menegaskan, gempa sejatinya tidak membunuh, tetapi dapat memicu likuifaksi, amplifikasi, longsor, dan tsunami, serta kerusakan pada infrastruktur.

Menurut sejarahnya, likuifaksi terparah di Jatim pernah terjadi di daerah Lumajang. Maka dari itu, Amien menekankan, supaya masyarakat kenal dengan macam bencana dan mitigasinya.

Bukan hanya gempa, melainkan juga prediksi tsunami dengan ketinggian 29 meter merupakan sesuatu yang sebaiknya diketahui lebih awal. Amien membuka catatan gempa dan tsunami yang pernah melanda Jatim, juga menyebut bahwa pada tanggal 3 Juni di tahun 1994 pernah terjadi gempa sekuat M 7,8 dan menimbulkan tsunami setinggi 14 meter di Pancer, Banyuwangi.

Selain itu, dalam katalog tsunami BMKG tercatat bahwa tsunami pernah melanda pantai selatan Jatim sebanyak tiga kali di tahun-tahun sebelumnya. Dengan waktu tempuh air untuk sampai ke daratan seperti yang disebutkan sebelumnya, yaitu selama 20 sampai 25 menit.

Maka bila terjadi pertanda tsunami hanya ada waktu sekitar 20 menit bagi warga pesisir untuk menuju tempat yang lebih tinggi, setidaknya setinggi 20 meter.

“Penting edukasi terkait mitigasi yang dikenal dengan semboyan 20-20-20,” katanya mengingatkan.

Hal itu supaya jika terjadi gempa terasa selama 20 detik, tanpa perlu menunggu air surut, segera menuju ke tempat dengan ketinggian minimal 20 meter, karena waktu yang ada hanya sekitar 20 menit.

Bab edukasi inilah, yang menurut Amien juga melandasi BMKG membeberkan kabar ini sekarang. Evaluasi dari gempa Malang beberapa waktu lalu, dengan skala kekuatan gempa sebesar M 6 saja membawa dampak kerusakan cukup luas.

“Harus semakin tinggi kewaspadaan kita, jika Jatim berpotensi alami gempa sampai kekuatan M 8,7,” tegasnya.

Peneliti dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) ITS ini kemudian berpesan, supaya masyarakat tidak mengimbuhi rasa panik dan cemasnya, tetapi menambah kehati-hatian dengan mempersiapkan infrastruktur layak gempa dan edukasi lainnya.

“Tak terkecuali pemerintah harus mengupayakan sosialisasi terkait mitigasi, bukan lagi hanya pada wilayah kategori rawan bencana, tetapi seluruh daerah,” tandasnya.

Amien juga mengajak masyarakat berkaca pada tragedi gempa besar di Jepang. Menurut survei penelitian, dari total warga selamat, 35 persen masyarakatnya memiliki wawasan kebencanaan, 32 persen lainnya memiliki keluarga yang berwawasan sama, sedangkan 28 persen yang lain bertetangga dengan orang berpengetahuan soal bencana.

Jika edukasi terkait kebencanaan dan mitigasinya digencarkan, dari kacamata Amien, akan besar peluang untuk mengurangi jumlah korban jiwa akibat bencana hidrometeorologi seperti gempa dan tsunami.

“Sembari melengkapi daerah dengan jalur evakuasi, kita harus mau mengedukasi diri agar siap siaga bermitigasi ketika bencana terjadi,” begitu pesannya. ana

Informasi ” BMKG Ramalkan Terjadinya Gempa dan Tsunami di Jatim, Pakar ITS Ini Malah Ingatkan Semboyan 20-20-20
Telah Tayang di : https://inisurabaya.com/2021/06/bmkg-ramalkan-terjadinya-gempa-dan-tsunami-di-jatim-pakar-its-ini-malah-ingatkan-semboyan-20-20-20/

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Berita Surabaya

Install
×