BOR Meningkat, Persi Jatim Sarankan Dinkes Kabupaten/Kota Beri Solusi untuk RS di Daerah

  • Whatsapp

Persatuan Rumah Sakit Indonesia (Persi) Jatim membenarkan, okupansi di rumah sakit rujukan di Jatim, terutama di Surabaya, khususnya untuk ruang intensif sudah mulai penuh. Dokter Dodo Anondo Ketua Persi Jatim yang menyatakan itu.

Laksamana Dr dr I Dewa Gede Nalendra Djaya Iswara Penanggungjawab Rumah Sakit Darurat Lapangan Indrapura Surabaya sebelumnya menyatakan, ruang perawatan intensif di rumah sakit yang ada di Surabaya Raya sudah penuh.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, dari total 144 ruang perawatan intensif di Surabaya Raya, yang sudah terisi sebanyak 142 tempat tidur. Hanya tersisa dua tempat tidur saja. RSDL Indrapura bahkan sampai harus merujuk pasien Covid-19 ke Mojokerto.

Dodo membenarkan itu. Dia dapat laporan dari 8 Koordinator Wilayah Persi di Jatim. Peningkatan signifikan kasus Covid-19 belakangan memang meningkatkan okupansi tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR) di rumah sakit rujukan.

“Memang betul yang dikatakan dr Nalendra, kondisi di Surabaya Raya memang seperti itu. Kalau untuk rujukan gejala berat, berarti di Surabaya ini ya RSUD dr Soetomo dan RS Universitas Airlangga (RSUA),” ujarnya.

Namun, Dodo lebih menekankan pada pasien Covid-19 dengan gejala ringan dan sedang yang menurutnya, sesuai perhitungan, jumlahnya mencapai lebih dari 80 persen, termasuk orang tanpa gejala (OTG).

“Kalau sesuai perhitungan, yang berat sebetulnya hanya 5 persen. Sisanya 80 persen lebih itu ringan dan sedang, juga yang tanpa gejala. Menurut saya, yang harus dicarikan tempat yang ini,” katanya.

Dodo menyatakan, Persi Jatim siap membantu dalam hal koordinasi dan tindak lanjut mengenai ketersediaan tempat di rumah sakit serta memberikan masukan penanganan. “Tapi pengambil kebijakan tetap Satgas Covid-19.”

Menurutnya, dalam waktu dekat ini Dinkes Jatim akan mengumpulkan Dinkes Kabupaten/Kota se-Jatim. Dia akan mengikuti pertemuan itu dan memberikan masukan kepada Dinkes kabupaten/kota.

Salah satu masukan yang akan dia sampaikan, seharusnya Jawa Timur sudah memiliki rumah sakit khusus Covid-19. Sebab, sejauh ini RS Dr Soetomo masih menangani pasien non-Covid-19. Demikian juga RS Universitas Airlangga.

Penambahan ruangan resusitasi di IGD Khusus Penyakit Menular di RS Dr Soetomo yang jumlahnya 15 orang, menurutnya tidak sebanding dengan pasien Covid-19 dengan gejala berat yang juga membludak.

“Kalau saya, kalau memang tidak mungkin mendirikan RS Khusus Covid-19, ya sudah yang ada ditambah kapasitasnya. Jadi di RS Lapangan itu ditambah ruangannya. Lalu ada RS Lapangan di daerah-daerah,” ujarnya.

Keberadaan Rumah Sakit Lapangan di daerah selain Surabaya menurutnya penting. Supaya tidak semua pasien dirujuk ke Surabaya sehingga ketersediaan tempat tidur yang ada tidak mencukupi.

“Saran saya satu. Dinkes kabupaten/kota juga harus mencarikan solusi untuk rumah sakit-rumah sakit. Supaya tidak dirujuk ke Surabaya semua, masing-masing kabupaten/kota punya tempat atau rumah sakit khusus Covid-19,” ujarnya.

Dia mencontohkan apa yang dilakukan pemerintahan Solo dan Yogyakarta, yang menyiapkan tempat khusus penanganan Covid-19 di lapangan sepak bola. Terutama untuk pasien Covid-19 dengan gejala ringan.

“Kan kalau begitu tidak perlu dokter spesialis. Dokter umum saja bisa. Jadi saya sarankan Dinkes Kabupaten/Kota di luar Surabaya menyediakan satu saja tempat. Bisa menampung 100 orang saja sudah lumayan,” katanya.

Masalahnya, kata Dodo, penambahan kapasitas ruangan atau tempat untuk penanganan Covid-19 ini memerlukan tambahan Sumber Daya Manusia. Menurutnya, tenaga medis dan paramedis ini sudah dalam kondisi lelah.

“Ya, maaf. Tenaga medis dan paramedis sekarang ini, kan, istilahnya sudah capai begitu ya. Tapi banyak relawan yang mau. Banyak. IDI (Ikatan Dokter Indonesia) juga masih terus mengumpulkan relawan untuk membantu RS Dr Soetomo juga RSDL Indrapura,” katanya.

Sebab itulah, kata Dodo, pencegahan terbaik ada di tangan masyarakat. Meningkatnya kasus Covid-19 secara signifikan menurutnya karena menurunnya kepatuhan masyarakat dalam penerapan protokol kesehatan.

“Saya kemarin dapat cerita, di mal-mal itu juga sudah banyak yang tidak pakai masker. Ini kan berarti yang harus ditangani betul di masyarakat. Menurut saya tidak cukup 3M. Tapi 3WM. ‘W’ itu Wajib. Wajib pakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan,” ujarnya.(den/tin/iss)

Informasi Ini Sudah Tayang di : https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2020/bor-meningkat-persi-jatim-sarankan-dinkes-kabupaten-kota-beri-solusi-untuk-rs-di-daerah/

Pos terkait