Heboh Potensi Tsunami 20 Meter, Pakar ITS Surabaya Beri Tips Mitigasi

  • Bagikan

Surabaya – Institut Teknologi Bandung (ITB) menyebut adanya potensi tsunami di pantai selatan Jawa setinggi 20 meter. Ahli Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Dr Amien Widodo memaparkan sejumlah cara tangguh dalam mitigasi bencana menghadapi tsunami.

Salah satu yang dicontohkan Amien, yakni cara yang dilakukan masyarakat Pulau Simelue, Aceh yang melakukan deteksi dini saat terjadi tsunami 26 Desember 2004 lalu. Peristiwa gempa dan tsunami yang pernah terjadi di wilayah tersebut, membuat masyarakat di sana aktif mengembangkan sistem deteksi dini berbasis kearifan lokal yang mereka sebut semong.

“Istilah yang berarti air laut surut ini telah ada sejak tahun 1900. Kearifan lokal yang diceritakan secara turun-temurun hingga melekat dan membudaya ini mengajarkan agar semua orang segera berlari menuju ke bukit apabila mendapati air laut tiba-tiba surut,” papar Amien dikutip dari detikcom, Jumat (25/9/2020).

“Berkat teriakan semong ini lah hampir seluruh masyarakat Pulau Simelue selamat dari amukan bencana tsunami pada 26 Desember 2004 lalu. Padahal, secara geografis letak pulau ini sangat dekat dengan pusat gempa saat itu,” tambahnya.

Selain menggunakan cara lokal, Amien menyebut banyak cara yang bisa dilakukan, baik secara individual maupun kolegial. Misalnya belajar kejadian bencana tsunami di masa lampau dan belajar dari bencana serupa di tempat lain, bisa menjadi langkah awal yang penting dalam membangun masyarakat tangguh tsunami.

Salah satunya, tentang kisah saksi mata tsunami di Banyuwangi pada 1994, yang mengaku sempat sempat mendengar suara gemuruh hingga mencium bau belerang yang menyengat sebelum terjadi tsunami. Hal ini bisa menjadi salah satu contoh.

“Saksi mata saat terjadi tsunami di Banyuwangi tahun 1994 mengatakan saat terjadi tsunami beberapa orang mendengar suara gemuruh seperti suara helikopter dan truk penuh material lewat. Demikian juga saat laut surut, bisa tercium bau belerang yang menyengat, hal ini terjadi karena endapan belerang di dasar laut terkelupas saat laut surut. Bisa juga muncul ledakan saat endapan methan di dasar laut bersentuhan dengan udara bebas akan meledak dan menimbulkan bola api,” papar Amien.

Untuk itu, Amien meyakini masyarakat yang ada di daerah pesisir biasanya mengetahui potensi bencana. Untuk itu, perlu dilakukan penguatan dalam membentuk masyarakat tangguh tsunami, bahkan dari tingkat RT.

“Membentuk masyarakat tangguh tsunami di tingkat RT bisa menjadi target berikutnya. Hal ini untuk memastikan agar setiap warga bisa terkoordinasi, baik dengan anggota RT yang lain maupun dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan bencana tsunami seperti BNPB, BPBD, BMKG, PMI, maupun Perguruan Tinggi, dan tahu apa yang harus dilakukan bila kondisi darurat terjadi,” saran Amien.

Selain itu, Amien juga menyinggung hasil survey yang dilakukan pada masyarakat di Kobe, Jepang yang selamat dari peristiwa gempa pada 1995 lalu. Ada sejumlah faktor yang sangat berpengaruh dalam mitigasi bencana, salah satunya penyelamatan yang bergantung pada diri sendiri.

“Nampak bahwa 35% korban selamat umumnya melakukan penyelamatan secara mandiri atau bergantung pada diri sendiri, disusul 32% akibat pertolongan keluarga, 28% dengan bantuan tetangga, dan sisanya berkat pertolongan dari luar seperti BPBD, SAR, PMI, dan lain-lain,” jelas Amien.

Selain upaya jangka pendek, Amien menambahkan persiapan jangka panjang juga mutlak diperlukan. Salah satunya melalui pendidikan kebencanaan bagi para pelajar. Di mana, dalam pendidikan tersebut, mereka akan mengenalkan dan dibangun pemahamannya terkait berbagai macam bencana.

“Tujuannya, agar mereka tahu apa yang mesti mereka lakukan agar bisa selamat bila bencana sewaktu-waktu terjadi,” jelas Amien.

Amien menambahkan kesadaran dan pengetahuan bencana ini penting jika ditanamkan sejak dini. Amien menceritakan sosok Tilly Smith, anak perempuan berusia 10 tahun yang menyelamatkan banyak nyawa saat tsunami melanda Aceh.

“Bila kesadaran dan pengetahuan ini terbentuk sejak awal, bukan tak mungkin mereka juga bisa menyelamatkan banyak orang seperti halnya yang telah dilakukan oleh Tilly Smith, seorang anak perempuan berumur 10 tahun yang telah menyelamatkan banyak nyawa saat terjadi Tsunami pada 26 Desember 2004 lalu,” jelas Amien.

“Berasal dari Desa Oxshott Surrey Inggris, Tilly sedang berlibur dengan keluarganya di Pantai Maikhao Phuket, Thailand saat terjadi gempa. Melihat air laut surut cepat, dia mengajak keluarganya dan mengingatkan wistawan lain untuk menjauh dari pantai dan sesegera mungkin melakukan evakuasi. Tilly melakukan hal ini berdasarkan ilmu yang ia peroleh dari guru geografinya tentang tsunami, dua minggu sebelum ia dan keluarganya pergi berlibur. Alhasil, saat tsunami menerjang, hampir tidak ada wisatawan yang terluka, semuanya selamat,” pungkasnya.

Informasi “Heboh Potensi Tsunami 20 Meter, Pakar ITS Surabaya Beri Tips Mitigasi” Telah Tayang di infosurabaya.id

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Berita Surabaya

Install
×