Mahasiswa ITS Ciptakan Pendeteksi Getaran Gempa Bawah Laut

  • Whatsapp

Surabaya – Lima mahasiswa ITS Surabaya, membuat inovasi Humanless Underwater Sensors Technology (HUST). Yakni teknologi sensor bawah laut yang diaplikasikan pada perairan perbatasan Indonesia.

Mereka yakni Wildan Muhammad Mursyid, Ghifari Hanif Mustofa, Ahmad Fahmi Prakoso, Edo Danilyan dan Aldiansyah Wahfiudin.

Read More

Ketua Tim HUST, Wildan mengatakan, fungsi alat tersebut untuk mendeteksi masuknya kapal tanpa izin resmi ke perairan Indonesia. Atau kapal yang dicurigai melakukan illegal fishing.

“Selain itu, HUST juga dapat digunakan untuk mendeteksi bencana laut seperti gempa laut dan tsunami,” kata Wildan, Selasa (6/10/2020).

Bermula dari banyaknya kasus illegal fishing yang terjadi di Indonesia, membuat kerugian di bidang ekonomi. Jika terus dibiarkan, biomassa ikan di Perairan Indonesia juga cepat menurun.

Wildan menjelaskan, saat ini Indonesia belum memiliki pengembangan teknologi sensor dan pendeteksi gempa di bawah laut. Indonesia hanya memiliki sensor deteksi (seismic network) yang hanya diletakkan di daerah daratan. “Oleh karena itu, HUST diharapkan dapat menjadi sarana dalam peletakan sensor deteksi (Seismic network) di wilayah perairan, sehingga dapat meningkatkan akurasi sistem deteksi yang sudah ada,” ujarnya.

HUST bekerja menggunakan beberapa mekanisme sensor. Di antaranya sensor gempa untuk mendeteksi getaran dasar laut, sensor logam untuk mendeteksi kapal yang mendekat dan sensor ID untuk mendeteksi Transmitter ID yang sudah memiliki izin penangkapan ikan di wilayah perbatasan. Ketiga sensor tersebut memiliki peran masing-masing dalam penggunaannya.

Dalam penggunaannya HUST dapat mendeteksi empat kondisi. Yaitu kondisi normal, terdeteksi getaran, terdeteksi kapal berizin dan terdeteksi kapal ilegal. Data yang diperoleh oleh HUST akan dikirimkan ke posko pemantauan melalui transmitter signal. Kemudian, data diolah dan divalidasi menggunakan citra satelit pada daerah koordinat deteksi.

“Posko ini akan menindaklanjuti data yang tervalidasi oleh deteksi getaran dan deteksi kapal ilegal. Lalu posko mengirim personel untuk menindak tegas kapal yang memasuki Perairan Indonesia tanpa izin resmi. Selain itu, posko juga mengirimkan pemberitahuan kepada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) agar segera dianalisa kemungkinan timbulnya tsunami saat tervalidasi deteksi getaran,” jelasnya.

Wildan berharap inovasi ini dapat menjadi rekomendasi teknologi untuk pemerintah dalam menanggulangi permasalahan illegal fishing. HUST juga diharapkan bisa meningkatkan sistem pendeteksi bencana di Indonesia.

“Dengan manfaatnya yang besar bagi Indonesia, saya berharap agar ide kami bisa terealisasikan,” pungkasnya.

Informasi “Mahasiswa ITS Ciptakan Pendeteksi Getaran Gempa Bawah Laut” Telah Tayang di infosurabaya.id

Related posts