Masalah Di Dua Paslon Pilwali Surabaya

  • Bagikan

Surabaya – Pakar politik Mochtar W Oetomo, mengungkapkan analisa mengejutkan pada pertarungan Pilwali Surabaya 2020.

Dosen Universitas Trunojoyo tersebut menemukan ‘masalah’ pada kedua kubu baik pasangan Eri Cahyadi-Armuji maupun Machfud Arifin-Mujiaman.

“Saya lihat sampai sejauh ini sepertinya masih ada something problem di kedua kubu,” ungkapnya.

Di kubu Eri-Armuji (Erji) misalnya, belakangan beredar rekaman yang tengah viral soal mahar PDI Perjuangan sebesar Rp 50 miliar.

Menurut Mochtar, diakui ataupun tidak, masih ada persoalan dalam internal timses Erji terkait porsi antara relawan dengan mesin partai.

“Nah, ini kalau tidak terkonsolidir dengan baik, itu akan menjadi persoalan ke depan berkaitan dengan banyak hal. Mulai saksi, rekruitmen saksi, kemudian tim penggerak di depan, di Tempat Pemungutan Suara (TPS) itu akan menjadi persoalan,” paparnya.

Sementara di kubu Machfud, ia melihat dengan banyaknya partai pendukung tentu bukan persoalan mudah untuk mengkonsolidir berbagai kepentingan yang dibawa oleh partai.

“Dan itu sampai hari ini soliditas di lapangan belum bisa kita lihat. Jadi seperti masih jalan sendiri-sendiri dengan berbagai flyer yang beredar dari masing-masing partai,” ujar Direktur Utama Surabaya Survey Center (SSC) tersebut.

Lebih lanjut ia menegaskan jika hal ini akan menjadi lebih rumit kala Pilkada nanti masih berlangsung dalam suasana pandemi.

Terlebih, sudah banyak lembaga survei melansir kemungkinan besar tingkat kehadiran pemilih di TPS tidak akan sebesar di Pilkada sebelumnya. Beberapa lembaga survei bahkan melansir hanya ada di kisaran 50 persen.

“Nah, ini kan dengan suasana seperti ini unpredictable. Menjadi susah untuk diprediksi dengan masing-masing memiliki problem internal tadi,” tandas Mochtar.

Sementara di sisi lain, kandidat juga mengalami kesulitan merumuskan model kampanye.

Dalam merumuskan model kampanye darat misalnya ada banyak kendala karena persoalan pandemi. Tidak boleh mengumpulkan orang banyak, tidak boleh bersentuhan secara langsung dan sebagainya.

Sementara dalam merumuskan strategi kampanye udara juga terganjal problem pada fokus publik terhadap isu-isu pandemi.

“Fokus publik sekarang itu sama sekali bukan pada isu-isu Pilkada terbentur pada isu-isu tentang pandemi, tentang resesi ekonomi, tentang protokol kesehatan dan seterusnya,” jelasnya.

Sehingga pada akhirnya kedua pasangan harus cermat melihat fenomena situasi kondisi obyektif ini untuk merumuskan strategi-strategi yang lebih jitu guna memenangkan pertarungan.

“Kalau bicara strategi, itu menjadi penting untuk merumuskan strategi bagaimana bisa memastikan pemilih datang ke TPS,” tutur Dosen Pasca Sarjana Universitas Dr Soetomo tersebut.

Mochtar W Oetomo menjabarkan, bahwa paslon di Pilwali Surabaya tidak bisa hanya mengandalkan sosialisasi yang dilakukan oleh penyelenggara baik KPU maupun Bawaslu. Artinya kandidat juga harus punya rumusan strategis bagaimana bisa menjamin pemilihnya datang ke TPS.

Informasi “Masalah Di Dua Paslon Pilwali Surabaya” Telah Tayang di infosurabaya.id

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Berita Surabaya

Install
×