Close
Swipe Up to Read Content

Mendukung Autisme, Meraih Potensi Diri

Bagaimana penyandang autisme mengembangkan potensi diri?

Vincent Prijadi Purwono, 19 tahun, mengambil kuas dari sebuah tabung kecil. Ia mencelupkannya ke palet berisi cat air. Ia sedang melukis kumpulan kereta api di kanvas kotak berukuran jumbo, di sebuah ruang seni Vin Autism Gallery, Sambikerep, Surabaya.

Vincent merupakan anak penyandang autisme yang mahir melukis. Jumlah lukisannya lebih dari 200 kanvas. Mulai dari yang paling kecil berukuran 40×50 cm hingga yang paling besar berukuran 120×150 cm. Enam hari dalam seminggu ia habiskan waktu untuk bergelut dengan media lukis.

Lukisan dengan ukuran kecil biasa ia selesaikan dalam waktu satu sampai dua minggu. Sedangkan yang besar ia selesaikan dalam waktu sebulan.

Rudy Purwono ayah Vincent, mengatakan, bakat anaknya terlihat mulai kelas tiga Sekolah Dasar (Dasar). Namun, mulai fokus menekuni seni lukis sejak memutuskan keluar dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) lima tahun silam.

“Waktu di sekolah dia sudah nyakitin diri, sehingga kita dihadapi pilihan lanjut sekolah atau milih sesuai yang dia suka. Akhirnya kita milih yang dia suka. Dan ternyata bisa terlihat signifikan. Kalau di sekolah habis libur masuk itu dua menit sudah tantrum, kalau gambar itu bisa konsentrasi dua jam,” ucap Rudy sapaan akrabnya.

Karya lukis Vincent Prijadi Purwono seorang autis, saat berada di Vin Autism Gallery Surabaya, Selasa (10/1/2023). Foto: Risky suarasurabaya.net

Bertahun-tahun melukis, kemampuan Vincent meningkat pesat. Pengalamannya kini tidak hanya berkutat pada event pameran dan lomba di tingkat nasional, tetapi juga internasional. Jepang hingga Amerika menjadi negara yang tak asing baginya.

Selain bakat yang telah melekat, Rudy mengatakan, perbedaan suasana belajar antara di sekolah dan di rumah menjadi salah satu penyebab Vincent maju.

“Waktu sekolah, belajar harus kita suruh. Kalau melukis seperti ini, belajar tidak kita suruh. Bahkan, di luar jam belajar pun dia ngerjain sendiri,” ungkapnya.

Kekuatan Vincent sebagai seorang autis terletak pada penguasaan dimensi, pemakaian komposisi, dan penggunaan warna. Menurutnya, secara kata-kata memang lemah. Namun, untuk visual kemampuannya tinggi.

Rudy punya cara untuk merawat dan mengasah kemampuan Vincent. Ia memberi keleluasaan pada anaknya untuk tumbuh tanpa harus menekan. Dan membantu mendalami minat bakatnya.

Pria asli Surabaya itu percaya, menerima dan membuang rasa iri hati pada manusia lainnya adalah jalan terbaik untuk menguatkan potensi anaknya.

“Semisal kalau anak kita suka nyanyi, suka menari atau suka olahraga itu ndak usah malu. Ya itu salah satu cara untuk berkembang,” ungkap pria berambut cepak itu.

Begitu juga dengan hubungan antara orang tua dan anak. Komunikasi harus tetap tumbuh meskipun anak sama sekali tidak mengucapkan sesuatu. “Jadi harus ada bonding, agar bisa berkarya dan ada kesempatan untuk berkembang” tuturnya.

Suasana Vin Autism Gallery Surabaya, Selasa (10/1/2023). Foto: Risky suarasurabaya.net

Dalam kesempatan itu, ia juga menyuntikkan energi kepada para orang tua di Indonesia yang mempunyai anak dengan penyandang autis. Agar sama-sama tumbuh.

“Pertama, jangan menyerah. Kedua, penerimaan pada anak autis, harus menyadari bahwa anak kita berbeda. Jadi, jangan dibanding-bandingkan. Dan ketiga, siap untuk melakukan trial error untuk mencari minat bakat si anak,” ucapnya runtut.

Menurutnya, keterbatasan yang menghinggapi seseorang, lantas bukan berarti tidak mempunyai hak dan kesempatan untuk mengasah keterampilan.

Penyandang autisme mungkin punya kekurangan pada kemampuan fungsi tubuhnya. Tapi mereka sanggup untuk berjuang, belajar, dan mengasah potensi. Kelak, ketika penyandang autis merawat semangat ini, bukan mustahil kehidupan mereka akan penuh dengan karya dan berguna bagi sesama.(ris/dfn/ipg)

👆🏽PROMO GRATIS👆🏽
👆🏽PROMO GRATIS👆🏽

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *