Close
Swipe Up to Read Content

Mereka Punya Hak yang Sama untuk Maju

”Aku yang terlahir berbeda. Aku yang terlahir tak sama. Tulangku yang tumbuh tak sempurna. Membatasi gerak dan langkahku menggapai asa. Hanya kursi roda yang setia menemaniku ke mana-mana.

Tapi, aku punya cita-cita. Harapanku untuk maju dan berkarya terus menyala di dalam dada. Surabaya, untukmu aku ada. Tunggulah karyaku dan teman-teman semua. Karena kami manusia-manusia hebat.’’

SURABAYA – Itulah penggalan puisi yang dibacakan oleh Khalilah Putri Abiyyah dalam peringatan Hari Disabilitas Internasional kemarin (2/12). Bocah difabel itu adalah siswi kelas III SDN Karang Pilang I. Dari atas kursi roda, Khalilah bersuara lantang lewat puisi. Seolah dia ingin memberikan semangat bagi penyandang disabilitas yang lain bahwa harapan dan cita-cita harus terus menyala.

Tak ayal, Khalilah sukses membuat aula Convention Hall bergemuruh. Hadirin memberi tepuk tangan meriah. Termasuk Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan Ketua Tim Penggerak PKK Surabaya Rini Indriyani yang duduk di barisan depan. Mereka tampak menikmati penggalan puisi yang penuh semangat itu.

Selain pembacaan puisi, berbagai penampilan disuguhkan siswa SD-SMP berkebutuhan khusus di Kota Surabaya. Mulai tari-tarian, menyanyi, hingga melukis. Berbagai penampilan itu sukses memukau hadirin. ”Kami ingin memberikan apresiasi kepada anak-anak yang luar biasa ini,’’ kata Kadispendik Surabaya Yusuf Masruh.

Sedikitnya ada 1.115 peserta didik penyandang disabilitas yang datang kemarin. Mereka berasal dari 84 sekolah inklusi. Terdiri atas 50 SD dan 34 SMP negeri dan swasta. Mereka didampingi oleh pendidik yang tergabung dalam musyawarah guru pendamping khusus (MGPK) dan kelompok kerja guru (KKG).

Pemkot juga memberikan berbagai apresiasi. Sebab, sebelumnya, para siswa itu mengikuti berbagai macam lomba yang digelar dispendik. Mulai lomba baca puisi, menyanyi, lomba lari, bulu tangkis, membersihkan seprai, hingga lomba memasang tali sepatu. ”Kami latih agar anak-anak bisa mandiri,’’ ujar Yusuf.

Wali Kota Eri Cahyadi mengapresiasi kegiatan itu. Anak-anak penyandang disabilitas, kata Eri, juga memiliki hak yang sama untuk maju meraih masa depan. ”Karena setiap manusia yang lahir pasti punya kelebihan dan kekurangan,’’ kata Eri.

Pemkot akan memberikan keleluasaan bagi anak-anak difabel untuk bisa mengakses balai kota. ”Sehingga balai kota bisa menjadi rumah rakyat. Bukan milik pemerintah saja. Tapi, menjadi rumah rakyat yang bisa dinikmati,’’ ujarnya.

Untuk mengasah kemampuan siswa inklusi, pemkot juga membangun rumah prestasi di kawasan Semolowaru. Itu bisa diisi oleh anak-anak di tingkat SD dan SMP. Mereka digembleng untuk meningkatkan skill dan bakat. ”Banyak yang bisa dikembangkan. Sesuai dengan bakat anak-anak,’’ papar Eri.

Pemkot juga siap memberikan intervensi. Termasuk jika ingin menjadi pegawai di lingkungan Pemkot Surabaya. Wali kota memberikan akses kerja. Menurut Eri, dirinya sudah berkomunikasi dengan sekretaris daerah (Sekda). Yaitu, membuka kesempatan bekerja bagi difabel di berbagai organisasi perangkat daerah (OPD).

DI tengah program pemerataan pendidikan, ternyata masih ditemukan anak difabel yang belum mengenyam bangku sekolah. Padahal, secara usia sudah waktunya masuk sekolah. Itu ditemukan oleh Ketua Komisi D DPRD Kota Surabaya Khusnul Khotimah.

Di Kelurahan Mojo, Gubeng, ada dua kakak-adik penyandang disabilitas. Yakni, Juventina Liora Azalia berusia 8 tahun dan Natalia Kalandra Davina berumur 7 tahun. ”Sampai sekarang belum sekolah. Padahal, semangatnya mau sekolah tinggi,’’ kata Khusnul kemarin.

Keduanya memang berasal dari keluarga kurang mampu. Ditambah lagi, ibu dan ayahnya sudah bercerai. Dua bocah itu kini tinggal bersama kakek dan neneknya.

Khusnul mengaku sudah dua kali melakukan kunjungan. Hal itu juga sudah dilaporkan ke Dispendik Kota Surabaya. ”Dispendik juga sudah melakukan kunjungan. Tapi, belum ada tindak lanjut,’’ paparnya.

Kesehatan dua bocah itu juga perlu diperhatikan. Sebab, asupan gizi sangat memengaruhi tumbuh kembang anak.

Dia menyampaikan, bukan tidak mungkin kondisi serupa terjadi di wilayah lain di metropolis. Oleh karena itu, DPRD meminta dispendik untuk proaktif mendata anak-anak usia sekolah yang belum masuk sekolah. Peran itu juga bisa diemban Kader Surabaya Hebat (KSH) di lingkungan setempat.

Ketua IKD Surabaya Andik Setiawan mengatakan, semangat anak-anak difabel untuk berkarya sangat tinggi. Khususnya, di bidang seni. Misalnya, melukis dan menyanyi. Tapi sejauh ini, kata dia, belum tersedia ruang berkesenian yang representatif bagi difabel.

Oleh karena itu, pihaknya mendorong pemkot untuk memberikan ruang khusus bagi anak difabel untuk berkesenian. Lokasinya harus terpisah dengan orang-orang normal. ”Karena fasilitas di dalamnya harus disesuaikan dengan ketunaan para difabel,’’ ujar Didik.

PROGRAM UNTUK PEMBERDAYAAN DISABILITAS

  • – Mengapresiasi karya siswa berkebutuhan khusus.
  • – Menggelar lomba antarsiswa penyandang disabilitas.
  • – Mengundang anak-anak difabel berkunjung ke balai kota secara berkala.
  • – Mendirikan rumah prestasi sebagai pusat pengembangan bakat siswa difabel.
  • – Membuka rekrutmen pegawai pemkot dari kalangan difabel. Di setiap OPD ditempatkan dua pegawai difabel.
  • – Menggandeng perusahaan untuk menyerap tenaga kerja difabel.

Sumber: Reportase Jawa Pos

👆🏽PROMO GRATIS👆🏽
👆🏽PROMO GRATIS👆🏽

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *