Money Changer di Indonesia Ternyata Sudah Ada Sejak Jaman Revolusi, Simak Fakta Berikut

  • Bagikan
Ali Budiono sedang menceritakan sejarah uang kuno koleksinya kepada pengunjung Ciputra World Surabaya.

infoSURABAYA.com – Kegiatan pertukaran uang (money changer) ternyata sudah ada sejak jaman revolusi. Dan tahu kah bahwa pusat money changer di Surabaya ada di kawasan Jl Gunungsari?

Hadirnya money changer di Indonesia itu diperkirakan berkisar tahun 1946an saat Belanda masih berusaha menguasai Indonesia meski sudah memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Tentara Belanda yang kembali masuk ke Indonesia membawa uang seri Federal dan seri NICA. Kota besar yang berhasil dikuasai Belanda menggunakan dua seri uang tersebut.

Tetapi di daerah yang dikuasai pejuang memakai ORI (Oeang Repoeblik Indonesia).

“Orang Indonesia yang tinggal di kawasan yang dikuasai Belanda untuk belanja keperluan sehari-hari hasil panen kebutuhan pokok di desa dia harus menukarkan uangnya dengan mata uang Belanda terlebih dulu,” ungkap Ali Budiono, Ketua Surabaya Vintage Community kepada iniSurabaya.com.

Mata uang Belanda seri Wayang.

Jadi bila ada orang ketahuan bawa uang seri Federal atau NICA di daerah yang dikuasai pejuang pasti ditembak mati karena dianggap mata-mata yang digaji Belanda pakai uang itu.
Sebaliknya, penduduk desa jika ke kota tidak berani bawa ORI. Karena sekali ketahuan Belanda bawa ORI akan ditembak mati lantaran dianggap mata-mata.

Kegiatan ‘money changer’ yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi itu ada di perbatasan Kota Surabaya. “Tepatnya di kawasan Gunungsari,” tegas Ali yang menggelar lapak koleksi uang kuno miliknya di pameran berjudul ‘Soerabaia Heritage: Festival Hobikoe’ di Void Atrium –Ground Floor Ciputra World Surabaya.

Menurut Ali, uang tidak semata alat tukar. Tetapi banyak menyimpan sejarah di dalamnya. Sebab, mata uang selalu mengalami perubahan desain di setiap jaman tertentu.

“Kita sudah mengenal mata uang sejak jaman kerajaan, jaman penjajahan, revolusi, hingga kemerdekaan. Di situlah sejarah berlangsung,” paparnya.

Ragam uang kuno koleksi Ali Budiono.

Ali yang mengoleksi uang secara turun temurun dari orangtuanya ini juga memaparkan hadirnya mata uang Belanda seri Wayang koleksinya. Uang tersebut diterbitkan sekitar tahun 1938 sebelum Belanda dikalahkan Jepang.

“Untuk menarik perhatian penduduk Indonesia, Belanda sengaja menerbitkan uang seri Wayang tersebut,” imbuhnya.

Ali menambahkan, satu set uang seri Wayang itu di pasaran harganya mencapai Rp 1,5 miliar. “Yang bikin saya tertarik mengoleksi uang kuno ini karena uang kuno Indonesia menceritakan sejarah perjuangan bangsa Indonesia,” tegasnya.

Ali menyatakan pula bahwa uang sebagai alat tukar ini sudah dikenal sejak jaman kerajaan di Indonesia, yang antara lain beredar di Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera.

“Waktu itu alat tukarnya pakai token Malaya dan British Borneo. Karena masih belum punya uang sendiri orang Indonesia pakai mata uang negara tetangga,” kisahnya.

Sejarah perjalanan mata uang di negeri ini kian bervariasi ketika Indonesia merdeka dan masuk agresi militer Belanda pertama dan berlanjut agresi militer Belanda ke-2.

“Indonesia menerbitkan Oeang Repoeblik Indonesia pada tahun 1946. Uniknya mata uang tersebut ditulis 1945, karena syarat negara merdeka harus punya mata uang sendiri,” urainya.

Waktu itu, kata Ali, di Indonesia berlaku tiga mata uang sekaligus, yaitu ORI, mata uang Belanda, dan mata uang Jepang. “Uang Indonesia itu mengalami perjuangan luar biasa. Salah satunya ketika pabrik percetakan uang Indonesia ini dibom Belanda,” tuturnya.

Perawatan Uang Kuno
Untuk merawat uang kuno ini ternyata tidak sulit. Uang kertas ini cukup dimasukkan dalam kantung plastik dan tidak perlu disimpan di suhu tertentu.

“Kalau tidak disimpan dengan benar, akan mengalami proses foxing (kertasnya berubah menguning),” bebernya.

Ali juga menyarankan agar uang kertas kuno ini tidak disimpan dalam lemari kayu karena lembab. “Uang kertas ini tak perlu dijemur, tetapi perlu tempat kering. Kalau pun terpaksa di ruangan berkayu, bisa diberi kapur barus untuk mengurangi kelembaban ruangan,”

Beragam barang antik yang dipajang antara lain keramik Tiongkok yang dibawa Laksmana Cheng Ho, dan ratusan jenis barang jadul lainnya.

Lewat pameran ini SVC ini mengedukasi generasi muda agar mereka tahu budaya Indonesia masa lalu. “Misalnya telepon putar. Anak jaman sekarang pasti bingung, karena mereka tahunya sudah pakai telepon pencet,” ucapnya. dit

Informasi ” Money Changer di Indonesia Ternyata Sudah Ada Sejak Jaman Revolusi, Simak Fakta Berikut
Telah Tayang di : https://inisurabaya.com/2021/04/money-changer-di-indonesia-ternyata-sudah-ada-sejak-jaman-revolusi-simak-fakta-berikut/

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Berita Surabaya

Install
×