Close
Swipe Up to Read Content

Pakar Unair Ajak Masyarakat Peduli Kesehatan Mental

Atika Dian Ariana Pakar Psikologi Universitas Airlangga (Unair) mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan mental orang-orang sekitar karena tingginya angka kasus bunuh diri di Indonesia.

“Karena orang-orang yang sedang memiliki mental tidak baik-baik saja biasanya akan terjadi perubahan kognitif dalam pola berpikir. Seperti, sulitnya berkonsentrasi, mudah lupa, dan ceroboh,” tuturnya dalam keterangan pers yang diterima suarasurabaya.net, Selasa (29/11/2022).

Selain itu, terjadi perubahan afektif menjadi lebih sensitif. Misalnya, mudah marah, mudah menangis, dan mudah tersinggung.

Terakhir adalah perubahan perilaku. Seperti, tiba-tiba menarik diri dan tidak banyak melakukan interaksi dengan teman yang sebelumnya dekat dengannya.

“Perubahan tiga area itu yang setidaknya bisa kita amati dan kemudian kita bisa dekati. Kalau ini pada anak sekolah atau kuliah juga bisa terlihat dari menurunnya performa akademik,” ujarnya.

Karena itu, penting bagi masyarakat untuk sadar dan peka terhadap perubahan orang-orang di sekitar. Tidak memilih abai dan tetap peduli kepada orang lain merupakan langkah awal terciptanya cegah aksi bunuh diri.

“Orang-orang yang memiliki gangguan kesehatan mental akan merasa aman terhadap lingkungan yang sehat di sekitarnya,” katanya.

Di bangku perkuliahan, mahasiswa tidak hanya dibekali segudang ilmu, namun diharapkan menjadi agent of change di dalam masyarakat. Mahasiswa harus memiliki jiwa sosial yang tinggi karena sesuai dengan salah satu tri dharma perguruan tinggi, yaitu pengabdian.

Sama halnya dengan kesehatan mental di dalam masyarakat, mahasiswa memiliki peran penting untuk mendukung pencegahan bunuh diri di dunia.

Salah satu cara mahasiswa membantu terjalinnya kesehatan mental adalah dengan memberikan dukungan psikologis awal. Prinsipnya ada tiga, yaitu memperhatikan atau mengamati (look), mendengarkan (listen), dan mendampingi (link).

“Ada beberapa hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan kepada dia, misalnya ketika dia menangis kita ambilkan. Itu adalah langkah pertama dulu. Jadi, kalau ada orang menangis jangan ditanya dulu kenapa. Perhatikan kebutuhan yang paling dasar yang bisa kita bantu,” ucapnya.

Cara sederhana yang bisa kita bagikan untuk orang sekitar merupakan langkah awal pertolongan kita sebagai orang awam.

Setelah look adalah listen yang bersifat penawaran. Artinya, mendengarkan itu adalah langkah yang bisa kita berikan ketika teman kita mau bercerita. Juga tidak boleh ada pemaksaan karena akan membuat dia merasa tidak nyaman.

“Dan yang terakhir adalah link, yaitu menghubungkan pihak-pihak tertentu untuk bisa membantu teman kita tersebut. Tidak harus ke profesional, seperti bisa diarahkan ke help center Unair. Atau bisa juga dilakukan dengan memberikan info layanan kesehatan mental,” tuturnya.

Lebih lanjut, Anita mengatakan setiap orang memiliki pemikiran, pengalaman, harapan, dan ketahanan yang berbeda dengan kita.

Coba pahami dari sudut pandang korban bagaimana dia memaknai masalah yang terjadi. Maka untuk mendukung proses ini, jauhkan respons yang bersifat menghakimi (judgemental).

“Jauhi respons menghakimi, seperti ‘kamu kurang bersyukur’. Itu akan membuatnya merasa bersalah. Selain itu, kita bisa memberikan validasi emosinya. Contohnya dengan kata-kata seperti ‘aku paham itu berat buat kamu’,” katanya.

Selain itu, tunjukkan bahwa pendengar ini menyimak dengan beberapa cara misalnya dengan mengulang kembali apa yang sudah disampaikan sebelumnya.

Berikan penekanan hingga menunjukkan bahwa kamu menyimak setiap ceritanya. Sehingga orang yang bercerita merasa lebih nyaman karena mendapat perhatian yang utuh.

Memberikan pendapat, lanjut Anita, juga merupakan salah satu usaha membangun jembatan emosional yang bersangkutan. Sehingga sebisa mungkin kita menggunakan bahasa yang tidak menghakimi agar bisa diterima dan disesuaikan dengan posisi orang tersebut.

“Apabila yang curhat ini adalah teman dekat kita, gunakan bahasa yang biasa digunakan atau sesuai yang biasa dilakukan. Artinya tidak perlu menggunakan kata-kata yang menunjukkan bahwa kita lebih mengerti terhadap persoalan ini daripada dia,” pungkasnya.

Selain itu pula, kita juga perlu mengenal karakter orang-orang yang curhat. Ketahui bahwa beberapa orang hanya menyampaikan unek-uneknya saja. Sehingga kita tak harus menyampaikan pendapat atau solusi kita, kecuali bila diminta.

Dalam memberikan pendapat, yang terpenting adalah jangan memberikan harapan palsu, terutama penggunaan kalimat ‘semua akan baik-baik saja’ pada beberapa permasalahan berat. Cobalah membuat pandangan yang objektif dari sudut pandangmu.

PERINGATAN: Berita atau artikel ini tidak bertujuan mendiagnosa gangguan kesehatan mental.

Jika Anda atau keluarga maupun teman Anda memerlukan layanan konsultasi masalah kejiwaan, jangan ragu bercerita, konsultasi, atau memeriksakan diri ke psikiater di rumah sakit yang memiliki fasilitas layanan kesehatan jiwa. Terlebih apabila pernah terbersit keinginan melakukan percobaan bunuh diri.

Untuk konsultasi, Anda dapat menghubungi nomor hotline Psikolog Klinis Rumah Sakit Jiwa Menur di 081-3472-753-07 via WhatsApp, setiap Senin-Kamis: 08.00-19.00 dan Jumat: 08.00-13.00 WIB. Atau mengakses layanan Love Inside Sucide Awareness (LISA) Kementerian Kesehatan di Call Center 119 atau hotline 08113855472.(rum/ipg)

👆🏽PROMO GRATIS👆🏽
👆🏽PROMO GRATIS👆🏽

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *