Perempuan Berpotensi Sumbang 280 Miliar USD untuk E-Commerce di Asia Tenggara

  • Bagikan
Perempuan Berpotensi Sumbang 280 Miliar USD untuk E-Commerce di Asia Tenggara

Surabaya – Pasar e-commerce Asia Tenggara berpotensi tumbuh hingga lebih dari 280 miliar USD pada 2025-2030, menurut laporan hasil riset IFC dengan menggunakan data dari perusahaan e-commerce Lazada, yang dipublikasikan hari ini.

Pertumbuhan ini dapat diraih dengan menambah jumlah perempuan yang berjualan di platform online dan dengan memberikan dukungan pelatihan dan finansial yang lebih baik kepada mereka.

Laporan yang berjudul Women and e-commerce in Southeast Asia , menemukan bahwa COVID-19 telah meningkatkan percepatan pertumbuhan e-commerce dan wirausaha digital di Asia Tenggara dan terbukti bahwa semakin banyak perempuan yang terjun dalam bisnis digital. Meskipun begitu, laporan ini juga menyebutkan bahwa banyak yang bisa dilakukan untuk mendukung wirausaha perempuan dan membantu mereka mengatasi tantangan-tantangan dalam e-commerce.

Misalnya, platform marketplace e-commerce memiliki posisi yang sangat baik untuk menyasar bisnis-bisnis yang dimiliki perempuan untuk diberikan pelatihan, dan untuk mendorong partisipasi perempuan dalam segmen yang bernilai lebi tinggi seperti elektronik.

Perempuan juga bisa memperkuat bisnis mereka dengan memanfaatkan penawaran fintech yang mulai banyak bermunculan, misalnya pinjaman dalam platform, yang mana perempuan saat ini memiliki akses yang jauh lebih rendah daripada laki-laki. Laporan ini menggunakan data dari Lazada, serta dari survei vendor di Indonesia dan Filipina.

“E-commerce di Asia Tenggara sedang berkembang pesat. Sejak 2015, pasar sudah membesar menjadi tiga kali lipat, dan diperkirakan akan semakin membesar hingga tiga kali lipatnya lagi. Dalam riset ini, IFC menunjukkan bahwa pertumbuhan ini bisa lebih tinggi jika kita berinvestasi pada wirausaha perempuan di platform e-commerce,” kata Alfonso Garcia Mora, Vice President for Asia and Pacific, IFC.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa setengah dari semua vendor e-commerce aktif di Asia Tenggara adalah perempuan, meskipun mereka cenderung menjalankan bisnis berskala kecil dan menonjol dalam segmen dengan persaingan tinggi dan bernilai rendah. Di platform Lazada, sekitar sepertiga bisnis di Indonesia dan dua pertiga bisnis di Filipina dimiliki oleh wanita.

Mendukung pengusaha perempuan telah menjadi urgensi baru sejak wabah COVID-19. Di Filipina, misalnya, jumlah penjualan dari bisnis milik wanita lebih tinggi daripada bisnis milik pria, tetapi karena COVID-19, persentasenya turun menjadi hanya 79 persen dibandingkan bisnis milik pria.

“Di Asia Tenggara, e-commerce telah menjadi penyelamat bagi kebutuhan sehari-hari tiap orang serta menjadi poros strategi bisnis yang lumrah untuk vendor dan brand ketika jual-beli offline terdampak oleh protokol keselamatan Covid-19," kata Chun Li, Chief Executive Officer Lazada Group dan Lazada Indonesia.

“Dengan peluang pertumbuhan yang sangat besar di kawasan ini, kami berkomitmen untuk menyediakan akses pengetahuan dan perangkat yang mudah bagi wirausaha perempuan untuk terjun dan mendapatkan manfaat dari ekonomi digital.”

Riset ini dilakukan oleh Digital2Equal , sebuah prakarsa yang dipimpin IFC yang dijalankan bersama dengan Komisi Eropa, yang mengumpulkan 17 perusahaan teknologi terkemuka yang beroperasi di berbagai marketplace global online untuk memperluas peluang bagi perempuan dalam pasar yang berkembang. Pendanaan tambahan disediakan oleh Umbrella Fund for Gender Equality.

Penelitian ini dilakukan oleh IFC bekerja sama dengan perusahaan penasehat dan bukti global Kantar Public.

Berita “Perempuan Berpotensi Sumbang 280 Miliar USD untuk E-Commerce di Asia Tenggara” Sudah Tayang Sebelumnya di infosurabaya.id

Cari Berita Terkait Perempuan Berpotensi Sumbang 280 Miliar USD untuk E-Commerce di Asia Tenggara
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Berita Surabaya

Install
×