Ponpes Nurul Hidayah Paiton Bekali Alumni Mengabdi dengan Jiwa Wirausaha

  • Whatsapp

Suasana tenang jauh dari ramai, menyapa saat pertama menjejak kaki di lingkungan pondok pesantren Nuruh Hidayah Paiton Probolinggo. Tidak heran, waktu sudah jelang masuk saat Maghrib, sehingga sebagian santri sudah tampak bersiap mengikuti kegiatan pengajian rutin. Ke Timur, singgah di pesantren yang berada di sebelah barat PLTU Paiton Probolinggo.

Bukan tanpa alasan Kami datang ke Pondok Pesantren Nurul Hidayah ini, karena pondok ini mempunyai yayasan yang mengurus soal pendidikan dan sosial. Ini kata Hj. Nur Azizah M.Pd pengasuh pondok pesantren Nurul Hidayah. Dengan semangat bercerita, tentang sisi sosial dan entrepreneur di pesantrennya.

Read More

“Pesantren Nurul Hidayah ini memiliki yayasan pendidikan dan sosial. Sehingga kami sering sekali bergerak bersama masyarakat sekitar, wali santri, tetangga, dan ibu-ibu, yang tidak bekerja kami ajak untuk berdaya memproduksi kerupuk ini. Sehingga mereka bisa memperoleh pendapatan yang pantas,” ujar Hj. Nur.

Kerupuk adalah komoditi andalan di ponpes ini. Siapa tidak kenal kerupak, selain sebagai cemilan bagi sebagian besar masyarakat kita menjadikan kerupuk sebagai pendamping wajib saat makan. Kerupuk punya pangsa pasar luas, mulai kelas bawah hingga atas.

Hj. Nur kepada tim Suara Surabaya Media menyampaikan, kerupuk berlabel Ikan Jenggala yang diproduksinya,kini memang mulai membidik pasar menengah atas. Ini bukan isapan jempol belaka, secara serius mereka mengelolanya hingga produknya memang layak untuk menyasar segmen yang diharapkan.

“Kerupuk Jenggala itu kenapa diminati beragam kalangan, mulai bawah hingga atas, karena kerupuk ini tidak menggunakan obat alias pengawet. Kerupuk ini semata dibuat dari adonan tepung Kanji dengan Ikan Jenggala super,” tegas Hj.Nur.

Dalam menjalankan usaha mandiri pondok pesantren ini, tidak selamanya melalui jalan yang mulus.
Mahalnya bahan baku, terutama tepung kanji, belakangan semakin terasa menjadi kendala besar produksi krupuk cap Ikan Jenggala.

Sejak beberapa tahun lalu, kerupuk Jenggala memang mengalami penurunan, karena harga tepung kanji yang terus melambung tinggi. Harganya sekarang mencapai Rp.10 ribu bahkan ada yang RP.21 ribu per kilo.

Rintangan tak harus dihindari, paling bijak harus menemukan jalan keluar. “Sehingga dengan sedikit kreativitas sekarang dikembangkan produksi kerupuk dengan bahan dasar Tepung Beras,” urainya.

Sementara Fina Farhana pengurus usaha koperasi pondok pesantren Nurul Hidayah Paiton, Probolinggo, menjelaskan seputar usahanya. “Ada berbagai usaha ekonomi yang dikembangkan di pesantren ini. Mulai kerupuk Ikan Jenggala, Kopi Asma, ragam jenis Minuman Racik khas pesantren, dan Roti Maryam. Semuanya untuk membekali santri, paham tentang entrepreneur.” tuturnya.

“Jadi mereka harus menjadi santri yang mempunyai jiwa wirausaha, supaya apapun yang mereka lakukan di masyarakat kelak benar-benar untuk pengabdian, bukan untuk mencari penghasilan,” tegasnya.

Ketika ditanya soal omset, meski awalnya agak sulit bicara terbuka, akhirnya Fina terbuka soal omzet usaha di tahun-tahun pertamanya. “Mulanya kami hanya bermodal 1,3 juta rupiah. Alhamdulillaah, di tahun pertama kami mendapat bagi hasil sampai dengan 32 juta rupiah,” ungkapnya diiringi senyum.

Terbilang menarik omsetnya untuk sebuah usaha mandiri. Meski demikian keuntungan bisnis bukan tujuan utama. “Mendidik santri dan alumni agar punya jiwa wirausaha dan membantu masyarakat di sekitar pondok pesantren itu lebih utama. (lim)

Informasi Ini Sudah Tayang di : https://www.suarasurabaya.net/ekonomibisnis/2020/ponpes-nurul-hidayah-paiton-bekali-alumni-mengabdi-dengan-jiwa-wirausaha/

Related posts