Webinar Guru SMP Hang Tuah 1 Surabaya dengan Dr. John Charles Ryan University of New England

  • Bagikan
Webinar Guru SMP Hang Tuah 1 Surabaya dengan Dr. John Charles Ryan University of New England

Pendidikan di berbagai negara memang memiliki fokus yang berbeda-beda. Salah satu contoh adalah pendidikan di Amerika dan di Australia.

Pendidikan di Amerika menekankan pada keterampilan menulis esai, dimana siswa sekolah diberi porsi yang cukup untuk latihan menulis esai dan menjadikan keterampilan menulis esai sebagai bagian evaluasi sebelum siswa lulus sekolah.

Sedangkan pendidikan di Australia menekankan pada a fair go atau egalitarianism, dimana setiap individu diberi kesempatan akses yang sama terhadap pendidikan dan setiap negara bagian memiliki kualitas pendidikan yang sama, tutur Dr. John Charles Ryan, sastrawan dan peneliti dari University of New England.A ustralia saat sesi webinar dengan sejumlah guru SMP Hang Tuah 1 Surabaya (27/5/2020) melalui aplikasi Zoom Meeting.

Webinar Guru SMP Hang Tuah 1 Surabaya

Program menulis esai pada siswa sekolah di negeri Paman Sam ini cukup memberi dampak pada keterampilan dan produktivitas tulisan yang terpublikasi.

Misalnya jumlah publikasi berupa buku, UNESCO (The United Nations, Educational, Scientific and Cultural Organization) mencatat bahwa Amerika menduduki posisi kedua setelah China untuk publikasi terbanyak setiap tahunnya.

Sedangkan jumlah publikasi berupa artikel penelitian, Amerika menempati posisi pertama sebagai negara dengan publikasi terbanyak menurut SCIMAGO Institutions Rankings.

Nah, bagaimana dengan jumlah publikasi penulis Indonesia? Berdasarkan SCIMAGO Institutions Rankings, Indonesia berada di urutan 48 untuk publikasi berupa artikel penelitian dan urutan ke 18 untuk publikasi buku terbanyak versi UNESCO.

Banu Rudywanta, guru SMP Hang Tuah 1 Surabaya dan salah satu peserta webinar, memberi tanggapan bahwa sistem pendidikan yang disampaikan oleh John lebih terkait dengan budaya negara tersebut.

Di “Indonesia budaya membaca masih kurang dan hal ini berdampak pada budaya menulisnya”, ungkap Banu.

Selamet Abidin, kolega Banu di SMP Hang Tuah 1 Surabaya, memberi komentar terkait tekanan yang dialami oleh guru-guru. Selamet menyampaikan bahwa salah satu tekanan bagi guru sekolah di Indonesia adalah skor atau nilai siswa.

Guru merasa tertekan apabila siswanya memiliki nilai yang kurang baik, terlebih saat menjelang ujian nasional (UN). Dengan kata lain guru-guru sibuk dengan mempersiapkan siswa untuk UN.

Kegiatan webinar ini terselenggara atas kerjasama Program Studi Sastra Inggris Untag Surabaya dengan SMP Hang Tuah 1 Surabaya dalam skema pengabdian masyarakat. “Pengembangan profesi guru dalam bentuk pelatihan bahasa Inggris untuk komunikasi internasional sangat penting bagi kami sebagai pendidik” kata Churiya Tul Anifah, S.Pd., kepala sekolah SMP Hang Tuah 1 Surabaya.

Mateus Rudi Supsiadji, S.S.,M.Pd., Ketua Program Studi Sastra Inggris Untag Surabaya menyampaikan bahwa guru-guru yang terlibat dalam pelatihan ini perlu diberi kesempatan untuk berlatih komunikasi bahasa Inggris langsung dengan native speaker.

“Webinar berikutnya akan membahas ‘Creative Writing on Online Learning Mode’ yang akan disampaikan oleh Pak John juga”, tutur Rudi. (Ref – Pariyanto Fakultas Ilmu Budaya “Untag Surabaya”)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Berita Surabaya

Install
×